Jumat, 20 Juli 2012

Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) atau IPSG

Gambaran Umum :
SKP ---> Syarat mayor dalam akreditasi KARS
Maksud dari SKP : mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien
SKP : menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam Yankes
dalam kompetensi dokter sudah muncul, di beberapa perguruan tinggi kedokteran di indonesia baru ada 3 yang mengajarkan patient safety.  

1) SKP 1 
Kebijakan dgn/atau prosedur, dua cara untuk mengidentifikasi pasien : menggunakan gelang identitas pasien, identifikasi dua diantara dua identitas
Pointnya adalah :
Salah identifikasi ---> salah memberi obat, salah tindakan, salah transfusi, salah hasil lab/PA--> Pasien cedera, citra buruk, tuntutan---> solusi : ketelitian identifikasi di semua lini pelayanan.
identifikasi : nama pasien (dua nama), No Rekam medis, tanggal lahir, dilarang identifikasi dgn kamar pasien atau lokasi.
Gelang pasien : biru : laki-laki, pink : perempuan, merah : alergi, kuning : Risiko Jatuh

Saat Pemasangan gelang oleh petugas :
- Jelaskan manfaat gelang pasien
-Jelaskan bahaya untuk pasien yang menolak, melepas, menutupi gelang, dll
-Minta pasien untuk  mengingatkan petugas bila akan melakukan tindakan atau memberi obat, memberikan pengobatan tidak menkonfirmasi nama dan mengecek ke gelang

Petugas harus melakukan identifikasi pasien saat :
- Pemberian obat
-Pemberian darah/produk darah
-Pengambilan darah dan specimen lain untuk pemeriksaan klinis
Sebelum memberikan pengobatan
-Sebelum memberikan tindakan

Satpam dan cleaning service harus mengetahui mengenai gelang identitas, sebagai contoh pasien sedang berjalan-jalan di rumah sakit menggunakan gelang tertentu, maka satpam akan membantu memberikan pelayanan.

2) SKP II
Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan terjadi pada saat :
- Perintah diberikan secara lisan, sebaiknya prosedur lisan/lewat telepon : Tulis lengkap, baca ulang-Spelling (untuk LASA---> contoh obat High alert PHENOBARBITAL dan PENTOBARBITAL) , reconfirm (lisan dan tanda tangan).  Pengecekan di sini adalah petugas harus mendemonstrasikan tehnik SBARR. Harus ada prosedur terkait penyampaian informasi secara lisan. Jika pemberian informasi melalui SMS, ada kelemahan, yaitu SMS bisa delay, hal ini bisa disiasati dengan mengkonfirmasi ulang melalui telepon. 

3) SKP III
-Obat yang perlu diwaspadai : obat yang sering menyebabkan KTD atau kejadian sentinel.  
-Obat yang perlu diwaspadai : NORUM/LASA, Elektrolit konsentrat---> obat mata banyak yang LASA.  Kasus di AS banyak yang meninggal penggunaan KCL.  KCL sebaiknya ada di unit farmasi saja, terkecuali penempatan di unit lain aman dan terkontrol.

4) SKP IV
Sasaran : Kepastikan tepat-lokasi, tepar-prosedur, tepat-pasien operasi.  
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat-lokasi, tepat-prosedur dan tepat pasien. Penyebab kesalahan terjadi karena :
-Komunikasi yang tidak efektif
-Kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi
-Tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi
-Penelaahan ulang catatan medis tidak adequat
-Tulisan/resep yang tidak terbaca

Penandaan Lokasi Operasi :
-Penandaan dilakukan pada semua kasus
-Perlu melibatkan pasien
-Tak mudah luntur terkena air
-Mudah dikenali
-Digunakan secara konsisten di RS
-Dibuat oleh operator /orang yang akan melakukan tindakan
-Dilaksanakan saat pasien sadar dan terjaga

Tahap timeout :
- Memungkinkan semua pertanyaan/kekeliruan diselesaikan
-Dilakukan di tempat tindakan, tepat sebelum dimulai
-Melibatkan seluruh tim operasi

Memiliki daftar singkatan yang dilarang. 
Tools yang digunakan terkait patient safety adalah surgical Safety Checklist /Time Out. (dari WHO). Dalam kondisi CITO pun harus dilakukan time out.

Sumber : Dr. Sutoto (KARS)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar